Tampilkan postingan dengan label frans lesomar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label frans lesomar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

Perhentian I: Yesus dihukum mati



Hukuman mati bagi Yesus adalah ulah para provokator yang tidak senang kepada Yesus. Yesus tidak bersalah tapi harus menerima siksaan, cercaan, cambuk duri dan memanggul salib. Penguasa yang seharusnya menjadi tumpuan harapan orang lemah, malah mematikannya. Hukuman mati di kayu salib hanya dijatuhkan kepada penjahat besar. Maka Yesus dianggap penjahat besar. Padahal yang jahat adalah hati kita sendiri, yang tidak mau peduli kepada sesama yang tidak berusaha untuk menciptakan persatuan, yang curiga kepada orang lain. Bahwa Yesus rela menerima hukuman mati di kayu salib adalah karena cinta-Nya kepada manusia. Dengan sengsara dan wafat-Nya, Yesus tidak hanya menebus dunia, tetapi juga mempersatukan seluruh umat manusia menjadi satu kawanan yang amat disayangi-Nya.

Renungan singkat
Dengan menyaksikan hukuman yang dijatuhkan kepada Yesus sekalipun Ia tidak bersalah. Kita diajak untuk “tidak main hakim sendiri” hukum untuk menghukum sesama. Kita juga diajak untuk tidak memprovokasi masa untuk kepentingan sepihak. Dan diatas semua itu sebagai murid Yesus kita diminta untuk siap sedia menanggung beban penderitaan sekalipun itu sangat berat dan menyakitkan.

Marilah Berdoa
Ya Yesus, Engkau rela menerima hukuman mati karena kasih Mu teramat besar kepada umat manusia. Maka keputusan yang tidak adil dan dijatuhkan kepadaMu adalah gambar kedengkian kami. Namun Engkau tidak membalas kedengkian itu, melainkan menerimanya dengan sabar, demi kesetiaanMu kepada Bapa yang mengutusMu, yang adalah sumber cinta kasih. Yesus, guru dan teladan kami, ajarilah kami melaksanakan cinta kasih kepada sesama. Bantulah kami melaksanakan pembaharuan pola hidup, yakni menggalang persatuan dan menumbuhkan solidaritas yang tinggi atas dasar keadilan dan cinta kasih. Karena tanpa keadilan dan cinta kasih, persaudaraan yang diharapkan menjadi perekat persatuan yang diharapkanm, tidak akan muncul, melainkan akan berbalik menjadi pemerasan dan penindasan. Amin

Minggu, 06 Maret 2011

Misa Pertama Imam baru P. Anton Mayabubun MSC di Tobelo

Penerimaan Imam Baru P. Anton Mayabubun MSC
di Depan Pastoran Gereja Katolik St. Maria Tobelo


Tarian adat Kei (Sosoi Beben evav) oleh ibu-ibu Kei di Tobelo saat menyambut Imam Baru


Pengalungan bunga pada Imam baru oleh anak-anak


Perayaan Ekaristi Kudus yang di pimpin oleh Imam Baru
di dampingi oleh P. Richardu Sukrisno Pr (Pastor Paroki), P. Viktor Sikteubun Pr (Rektor Seminari St. Yosep Tobelo) dan P. Frans Lesomar MSC (Karya Kategorial MSC Malut) 

Minggu, 30 Januari 2011

Kita dipanggil seperti SAMUEL


Goresan refleksi ini bersumber dan diinspirasikan oleh bacaan 1 Sam 3: 1-21.
Konteks keterpanggilan Samuel sangat indah untuk kita renungkan.
Pertama, Pada masa itu, ada seorang imam di Bait Allah namanya Eli. Ia seorang iamam orang Israel yang sudah lanjut usia. Imamat Eli tercoreng karena hidup dan perilaku anak-anaknya yang loba/rakus dan yang selalu mengambil barang-barang persembahan orang Israel yang hendak dipersembahkan di mezbahNya yang kudus, untuk kepentingan pribadi mereka.
Kedua, Pada masa suram seperti itu, Sabda Allah tidak datang pada siapapun dan penglihatan tidak dikaruniakan kepada mereka. Tidak ada rahmat yang kentara bagi Eli dan orang Israel.
Ketiga, Waktu itu juga Eli sudah lanjut usia, matanya pun sudah mulai kabur, dan tidak bisa melihat dan hanya terbaring di tempat tidur. Tetapi di ruangan lain ada seorang anak muda yang biasa membantu Eli di Bait Allah itu, yakni Samuel. Ia seorang muda dan walaupun sudah sering bekerja di Bait Allah tapi ia belum sepenuhnya mengenal Allah apalagi mendengar Dia dan menerima pewahyuan Allah.
Sederhananya, pada masa itu hanya ada satu imam yakni Eli. Tapi Eli dan keluarganya dilihat oleh Allah tidak layak lagi karena praktek imamat mereka yang salah dan menghina Allah. Namun, di tengah semua persoalan yang ada dikisahkan dengan sangat bagus bahwa: “LAMPU RUMAH ALLAH BELUM PADAM” artinya kesetiaan dan cinta Allah terus menyala menerangi dan menyertai manusia. Allah tidak tertidur, Allah tidak berhenti menyertai manusia (orang Israel, Eli dan Samuel).

Allah menyapa dengan lembut
Lalu Allah berbisik kepada samuel dalam tidurnya. Allah menyapanya dengan lembut “Samuel.. Samuel....” namun ia tidak tahu kalau yang memanggil itu adalah Allah. Kejadian seperti ini terjadi tiga kali. Sebagai seorang anak muda yang tidak tahu apa-apa, yang tidak punya pengalaman personal dengan Allah, Samuel tidak tinggal diam dan masa bodok dengan panggilan itu tapi ia pergi berulang-ulang kepada Eli, seorang yang senior dan punya banyak pengalaman suka-duka personal dengan Allah. Dan Eli berhasil menunjukkan kepada orang muda itu bahwa yang memanggil itu adalah ALLAH. 
Pengalaman ini mengajarkan satu hal penting bahwa sikap keterbukaan untuk bertanya, bersharring dengan orang yang lebih tua dan berpengalaman itu penting. Dan mereka yang sudah tua dan berpengalaman itu patut menunjukkan jalan yang baik dan benar kepada orang muda.
Lalu mulailah Samuel berkomunikasi dengan Allah. Bahkan dikisahkan bahwa “samuel makin besar dan Allah menyertai dia dan tidak ada satupun dari firmanNya yang dibiarkanNya gugur” (3;19).

Kita belajar apa..?

Kita sering tidur terlalu pulas. Lupa dengan segalanya. Pulas tertidur dalam kebisingan hidup dan hati kita. Pikiran, hati dan jiwa kita sarat dengan persoalan dan pergumulan, tidak ada waktu untuk bisa terdiam di dalam “Bait Allah” layaknya Samuel. Sikap diam, terjaga dan berkomunikasi dengan Allah, harus menjadi bagian dari diri kita. Sebaliknya, jika kita terus sibuk sebagaiman yang diperbuat oleh Eli dan anak-anaknya maka tidak akan ada mujizat dan pewahyuan diri Allah atas hidup kita.

Mari kita diam dalam bait Allah dan membuka hati untuk mendengarkan firman dankehendakNya.
Jagaah dan peliharalah firman Allah yang telah diajarkan kepada kita turun temurun.

Jumat, 17 Desember 2010

MENCARI HARTA KARUN

Cerita pendek ini berawal saat ada seorang pria dewasa sedang berjalan-jalan di pantai. Pantai itu sangat indah seperti pantai bali. Pria itu lalu melihat sebuah botol kaca. Pria itu memungutnya dan melihat ada secarik kertas di dalam botol. Dia kemudian menarik gabus penyumbat botol dan menjumpai bahwa kertas tersebut ternyata sebuah peta harta karun. Tetapi pria itu tidak percaya, sehingga ia memasukkan peta harta karun itu kembali dalam botol, menyumbat botol, dan melemparkan botol itu ke laut.

Beberapa saat kemudian, pria dewasa lain sedang berjalan di pantai dan melihat botol itu. Dia juga mengambil botol, membukanya, dan menemukan peta harta karun. Orang ini cukup penasaran dengan harta karun tersebut. Ia mencoba berjalan menuju tempat yang ditunjukkan peta tersebut, yaitu sekitar 30 meter ke tengah laut. Tetapi ketika tinggi air laut mencapai paha, ia memutuskan untuk berhenti. “Ini cuma jebakan!” katanya. Jadi, ia bergegas kembali ke tepi pantai dan membuang botol itu kembali ke laut.


Beberapa saat kemudian pria dewasa ketiga berjalan di tepi pantai dan melihat botol kaca itu terapung di air. Ia mengambil, membukanya, dan menemukan peta. Ia pun bertanya-tanya sebanyak apakah harta karun yang disebutkan di peta itu. “Hmm, peta ini cukup menjanjikan.” katanya, “Aku akan berusaha mencari harta karun ini!” Ia lalu menyewa perahu dan menuju ke tempat yang ditunjukkan peta tersebut.

Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan peta, dia melihat bahwa tampak ada sesuatu di bawah air yang menyerupai peti harta karun. Ia lalu menceburkan dirinya ke laut dan menyelam menuju benda bersinar itu. Tetapi ternyata lokasi peti itu jauh lebih dalam dari perkiraannya. Ia hampir kehabisan nafas. Ia lalu bergegas kembali ke perahu dan menyerah. Lantas botol berisi peta itu diambilnya, ditutup, lalu dilemparkannya kembali ke laut.

Setelah itu, ada satu pria dewasa lagi berjalan-jalan di tepi pantai. Seperti pria sebelumnya, ia juga melihat botol itu, membukanya, dan menemukan peta harta karun. Ia sangat bersemangat untuk menemukan harta karun tersebut. Ia melihat ada perahu di tepi pantai dan ia lalu menggunakan perahu tersebut untuk menuju ke tempat yang ditunjukkan peta.

Setelah sampai di tempat yang dimaksud, ia lalu menceburkan diri ke laut dan menyelam menuju ke peti harta karun. Tetapi ternyata lokasi peti itu sangat dalam dan nafasnya tidak mungkin bisa menjangkaunya. Maka ia memutuskan kembali ke perahu. Ia lalu kembali ke pantai dan menyewa perlengkapan selam. Kemudian ia mendayung perahunya kembali ke tempat harta karun. Dengan perlengkapan selam lengkap ia kembali menyelam menuju ke peti harta karun dan membawanya ke perahu. Matanya berbinar-binar ketika melihat peti harta karun itu penuh berisi emas dan berlian.
(Unknown Author)

Sukses adalah kombinasi dari peluang, keyakinan, usaha, dan strategi.. ^^

Kamis, 16 Desember 2010

LIMA KUALITAS PENSIL...........

 Melihat Neneknya sedang asyik menulis Adi bertanya, "Nenek sedang menulis apa?"

Mendengar pertanyaan cucunya, sang Nenek berhenti menulis lalu berkata, "Adi cucuku, sebenarnya nenek sedang menulis tentang Adi. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Nenek ini, yaitu pensil yang sedang Nenek pakai. Nenek berharap Adi dapat menjadi seperti pensil ini ketika besar nanti."

"Apa maksud Nenek bahwa Adi harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya," jawab Adi dengan bingung.

Nenek tersenyum bijak dan menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana Adi melihat pensil ini. Tahukah kau, Adi, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup."

"Apakah Nenek bisa menjelaskan lebih detil lagi padaku?" pinta Adi

"Tentu saja Adi," jawab Nenek dengan penuh kasih.
  

"Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga Adi, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

"Nah, bagaimana Adi? Apakah kau mengerti apa yang Nenek sampaikan?"

"Mengerti Nek, Adi bangga punya Nenek hebat dan bijak sepertimu."

Begitu banyak hal dalam kehidupan kita yang ternyata mengandung filosofi kehidupan dan menyimpan nilai-nilai yang berguna bagi kita. Semoga memberikan manfaat.